Minggu, 08 Februari 2009

Cangkrukan,Ciptakan Budaya Gojlokan dan Ngrasani...

Ketika selesai membaca majalah Chic edisi terbaru, saya menemukan kata-kata yang menginspirasi saya untuk menuliskan sebuah opini. Yah, tulisan ini cuma sekadar opini bebas saja. karena bagi saya, kebebasan dalam menulis sangat mempengaruhi hidup saya dan pekerjaan saya nantinya. Yah, walaupun terasa sakit bila ada yang memenjarakan tulisan kita. He..he...


Terkadang, kita tak pernah tahu bahwa apa yang kita ucapkan seringkali tidak bisa diterima, bahkan seringkali menyakiti lawan bicara kita. Pernahkah kita menyadari bahwa sebuah hinaan yang diucapkan dalam bahasa dan nada sehalus apapun selalu berpotensi untuk menyakiti orang lain?Banyak kasus yang sering terjadi berawal dari hal sepele. Joke atau umumnya disebut gojlokan dalam kehidupan kita sehari-hari, sering berakibat fatal dan cukup berimbas ke organisasi tentunya. Awalnya cangkrukan, ngobrolin tentang hidup dan nglanturin masalah kuliah eh malah keterusan ngomongin orang lain, dan yang lebih bahaya lagi mulai deh ada gojlokan-gojlokan yang awalnya kecil menjadi gojlokan besar yang merupakan monster pembunuh karakter. Namun ada juga yang memakai gojlokan sebagai pemantik semangat. Yah, pinter-pinter aja kita memilah-milah bung, mana yang sekiranya berpotensi untuk menyemangati, mana yang berpotensi menyakiti perasaan orang lain.


Setiap manusia pada dasarnya secara naluriah pasti mempunyai potensi untuk berbudaya ngrasani dan nggojloki, namun alangkah bijaknya apabila kita mampu melihat situasi dan kondisi serta karakter orang yang kita tuju, maupun juga lawan bicara kita. Karena setiap orang mempunyai karakter dan celah yang berbeda-beda. Apalagi yang namanya budaya ngrasani itu sangat berpotensi besar untuk mengarah ke Fitnah. Alfitnatu Asyaddu Minal Qotli, kalau gak salah sih bunyinya seperti itu, yang artinya : fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Nah, bahaya kan??Kalu masalah ngrasani, sebenarnya kalau kita pikirkan gak ada manfaatnya sama sekali buat kita. Masih banyak yang harus kita lakukan ke depan dari pada harus ngurusin masalah orang lain. Selama kehidupan pribadi kita nggak ada yang ngusik, akan lebih baik bila kita juga menghormati kehidupan orang lain. Ini bukan acuh lho namanya, harus dibedakan lho. jika orang itu gak memilih kita untuk tahu masalah pribadinya, mbok ya nyadar dong,nggak usah ngusik masalah pribadi orang lain.Sekarang coba kalau kita yang diusik, gak mau kan? Nah, kedua hal tersebut biasanya sangat sering kita jumpai saat cangkrukan. Karena biasanya dalam cangkrukan, kita menemukan proses-proses kehidupan yang jarang kita temukan di tempat lain.Ya, bukannya menghujat budaya cangkrukan sih. Semua itu bisa kita minimalisir dengan memutuskan mata rantai kebiasaan tersebut (ngrasani dan nggojloki yang bisa membunuh karakter). Mari kita sama-sama berusaha untuk berpikir positif dan terarah. InsyaAllah, bisa jadi pisau untuk memutus mata rantai kedua budaya tersebut dalam kehidupan kita. Amiin

Nb
: Tulisan ini bukan masalah sok sensitif atau apalah namanya, hanya mengingatkan saja bahwa menyakiti orang lain merupakan proses yang sangat mudah kita lakukan dimana saja, oleh karena itu berhati-hatilah dengan apa yang kita ucapkan...
Be careful with your jokes

-----


Seberapa hebatkah kita? Hingga harus mengorbankan perasaan orang lain yang kita anggap bisa diremehkan dengan mudah, dengan menyakiti hatinya....


Seberapa hebatkah kita? Hingga harus meremehkan kemampuan orang lain yang kita anggap nggak mampu melakukan suatu hal, dengan tak menghormati pilihannya...


Seberapa hebatkah kita?Hingga harus menyakiti orang lain dengan melecehkan kehidupan dan keluarganya?



*penulis meminta maaf yang sebesar-besarnya apabila ada kata-kata dalam tulisan ini yang menyinggung perasaan...


By : -=+ siola-bait-23+=-

XXIII-05.16.273-SWP

Hanna An-Nawawi

1 komentar:

Mr`PeKeN mengatakan...

Waaaa....kaBoRrr

Rimba KataKata © 2008 Por *Templates para Você*